Senin, 13 Oktober 2014

Pesan Ayah kepada Anaknya yang Baru Baligh

Pesan Ayah kepada Anaknya yang Baru Baligh
Semua orang menyadari, ketika manusia telah menginjak usia baligh, maka dia mengemban tanggung jawab syariat. Di usia yang masih sangat belia, Allah telah memberikan amanah besar bagi umat manusia.
Jika dulu kesalahan apapun yang dia lakukan sama sekali tidak dicatat dan tidak diperhitungkan. Begitu masuk usia baligh, semua harus dipertanggung jawabkan. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَبْلُغَ
Pena catatan amal diangkat dari 3 orang, [1] diangkat dari anak kecil hingga dia baligh. (HR. Ahmad 952, Nasai 3432, Turmudzi 1488, dan yang lainnya).
Akan tetapi beda baligh dengan dewasa. Betapa banyak remaja yang baligh, namun jauh dari karakter dewasa. Sifat kekanakan, manja, tidak merasa bersalah masih sangat menonjol dalam dirinya. Sayangnya, terkadang orang tua membiarkan anaknya bebas tanpa batas, tanpa nasehat, tanpa arahan, kurang perhatian menyadaran anaknya tentang betapa gentingnya usia  baligh.
Satu kisah yang layak dijadikan contoh. Nasehat seorang ayah kepada anaknya, calon ulama dunia, Sufyan bin Uyainah. Sufyan menceritakan,
قال لي أبي – وقد بلغت خمس عشرة سنة – إنه قد انقضت عنك شرائع الصبا، فاتبع الخير تكن من أهله، فجعلت وصية أبي قبلة أميل إليها ولا أميل عنها
Ayahuku memberi nasehat kepadaku – ketika aku berusia 15 tahun –, ‘Usia anak-anak telah berakhir darimu, karena itu, ikutilah kebenaran niscaya kamu akan menjadi pemilik kebenaran.’ Akupun selalu mengingat wasiat ayahku. Selalu aku perhatikan dan tidak kulupakan. (Shaid al-Khatir, hlm. 55)
Bisa jadi pesan yang dianggap sederhana oleh sang ayah, namun menjadi istimewa bagi sang anak.
Allahu a’lam

Selasa, 23 September 2014

Via twitulama.com

Sabarnya para ulama:
(1) Abu Ubaid tekun 40 tahun menulis kitab “Gharibul Hadits”.
(2) Ibnu Abdil Barr, tekun 30 tahun menulis “at Tamhid”.
(3) Ibnu Hajar, tekun 23 tahun menulis “Fathul Bari” dan
4) kakekku 40 tahun menulis “Hasyiyah Ar Raudh”.

@dr_alqassem - Syaikh Abdul Malik bin Abdurrahman Al-Qasim, salah seorang murid dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh at-Tamimi - 14/6/2014

Jumat, 05 September 2014

via twitulama.com

"Siapa yang menjaga (hak) Allah di masa muda dan kuat, Allah akan menjaganya di waktu tua dan lemah" (Ibnu Rajab).
@DrAlsoger Dr. Sami bin Muhammad as Shaqir, Imam Masjid Jami’ Ibnu Utsaimin, Dosen Fikih Universitas Qashim KSA 12/8/2014

Jumat, 29 Agustus 2014

tentang yaumuddin via twitulama.com

Tentang “Yaumuddin” di surat al Fatihah, ada penjelasan di ayat lain bahwa maknanya adalah “Hari yang agung”. “Tidakkah mereka yakin bahwa mereka akan dibangkitkan, pada satu hari yang agung. Hari di mana seluruh manusia berdiri menghadap Rabbnya” (al Muthaffifin: 4-6)”

@ibrahim_aldwish - Dr Ibrahim ad Duwaisy, Dosen sunnah nabawiyyah di Universitas Qashim, Kepala Pusat Studi Kemasyarakatan. 15/7/2014

Rabu, 20 Agustus 2014

Resah Akan Nasib Amalnya

Resah Akan Nasib Amalnya
Allah berfirman,
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻞُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ
“Allah hanya akan menerima amal dari orang yang bertaqwa.” (QS.
Al-Maidah: 27)
Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang diterima amalnya berarti dia
telah menjadi orang yang bertaqwa di sisi Allah. Seorang ulama
mengatakan,
ﻟﻮ ﻋﻠﻤﺖُ ﺑﺄﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻗﺒﻞَ ﻣﻨَﻲ ﺭﻛﻌﺘﻴﻦِ ﻛﺎﻥَ ﺃﺣﺐَّ ﺇﻟﻲَّ ﻣﻦ ﻛﺬﺍ ﻭﻛﺬﺍ
“Andai aku tahu Allah menerima dariku shalat dua rakaat saja, itu
lebih aku cintai dari pada harta yang sangat banyak.”
Mengapa mereka merasa sangat bahagia hanya dengan diterimanya
satu amal?
Karena berarti mereka sudah dianggap bertaqwa oleh Allah.
Akan tetapi, yang perlu kita renungkan, tidak ada satupun manusia
yang tahu apakah Allah menerima amalnya ataukah tidak. Karena
itulah, orang-orang soleh selalu resah akan nasib amalnya.
Seorang ulama, Malik bin Dinar mengatakan,
ﻭﺩِﺩﺕُ ﺃﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇﺫﺍ ﺟﻤﻊَ ﺍﻟﺨﻼﺋﻖَ ﻳﻘﻮﻝُ ﻟﻲ : ﻳﺎ ﻣﺎﻟﻚُ، ﻓﺄﻗﻮﻝُ : ﻟﺒﻴَّﻚَ، ﻓﻴﺄﺫﻥُ ﻟﻲ ﺃﻥ
ﺃﺳﺠﺪَ ﺑﻴﻦَ ﻳﺪﻳﻪِ ﺳﺠﺪﺓً ﻓﺄﻋﺮﻑُ ﺃﻧﻪ ﻗﺪ ﺭﺿﻲَ ﻋﻨﻲ، ﺛﻢ ﻳﻘﻮﻝُ : ﻳﺎ ﻣﺎﻟﻚُ، ﻛﻦْ ﺗﺮﺍﺑًﺎ
ﺍﻟﻴﻮﻡَ، ﻓﺄﻛﻮﻥُ ﺗﺮﺍﺑًﺎ
Saya membayangkan, ketika Allah mengumpulkan seluruh makhluk,
kemudian dia memanggilku, ’Hai Malik’
’Saya sambut panggilan-Mu’ jawabku.
Kemudian Dia mengizinkan aku untuk sujud di depan-Nya. Sehingga
berarti aku tahu Dia telah meridhaiku. Kemudian Dia berfirman,
’Hai Malik, sekarang, jadilah debu.’
Kemudian aku jadi debu. (Tafsir Ibnu Rajab, 1/242)
Kita tidak tahu apakah Allah sedang murka kepada kita ataukah ridha
kepada kita…
Barangkali dia sedang marah kepada kita sementara kita tenang-
tenang saja…

Artikel nasehat.net

Minggu, 29 Juni 2014

Kata Ulama

@twitulama: Imam Malik bila masuk Ramadhan, menutup kitabnya, mengambil mushaf dan berkata "Ini bulannya Al Quran, bukan selainnya"

@Ibrahim_aldwish

Kutipan twit Ulama ttg doa berbuka puasa

@twitulama: Teks doa buka puasa, "Dzahabad dhoma'u wabtalatil 'uruqu tsabatal ajru insya Allah" HR Abu Daud, hasan

@alnojimi

m.twitter.com/twitulama