Senin, 11 Januari 2016

Sukses yang sesungguhnya

Sukses yang sesungguhnya adalah sukses di akhirat, percuma sukses di dunia dalam berbagai bidang tapi di akhirat merugi. Karena kerugian di akhirat adalah kerugian yg sesungguhnya.
قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat". Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS Az-Zumar 15)
Yang terbaik adalah sukses di dunia dan di akhirat

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=509039215942746&id=317593835087286&refid=8&_ft_=qid.6238418120090397046%3Amf_story_key.-5857563899225837734&__tn__=%2As

Senin, 23 November 2015

Sebaik-baik Orang Bersalah

Setiap kita pasti mempunyai kesalahan. Maka hendaknya kita menjadi sebaik-baik orang yg mempunyai kesalahan, yaitu orang yang senantiasa bertaubat (ketika melakukan kesalahan), dan ia banyak bertaubat (karenanya). Ya Allah jadikanlah kami termasuk diantara orang-orang yang senantiasa bertaubat dan orang-orang yang selalu membersihkan diri
@Dr_almosleh – Dr. Khalid Al Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al Qashim, Saudi Arabia

via twitulama

Jumat, 19 Juni 2015

Semarak Ramadhan di Palangka Raya - pasar (1)





Jika friend list Anda...

Jika friend list Anda menampilkan gambar-gambar yang tidak bisa membuat kita menjaga pandangan, segeralah di-unfriend. Krn buat tambah dosa saja saat puasa.
# Puasa yang paling berat adalah menahan pandangan dan lisan.

Selasa, 16 Juni 2015

nasehat Syaikh Prof. Dr Sa’ud bin Ibrahim al Syuraim

Perhatikanlah Apa yang Anda Baca

Setiap cendekiawan, penulis, penyusun buku yang Anda baca tulisannya, kan meninggalkan bekas pada pikiran Anda. Maka bacalah tulisan orang-orang yang berilmu dan agamanya baik, niscaya Anda kan selamat. Ibnu Sirin mengatakan, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikan dari mana Anda mengambil agama Anda”
@saudalshureem – Syaikh Prof. Dr. Sa’ud bin Ibrahim al Syuraim, Imam dan Khatib Masjidil Haram, Dosen dan Profesor di Universitas Ummul Qura Mekkah
(http://www.twitulama.com/category/syaikh-prof-dr-saud-bin-ibrahim-al-syuraim/)

Senin, 13 Oktober 2014

Pesan Ayah kepada Anaknya yang Baru Baligh

Pesan Ayah kepada Anaknya yang Baru Baligh
Semua orang menyadari, ketika manusia telah menginjak usia baligh, maka dia mengemban tanggung jawab syariat. Di usia yang masih sangat belia, Allah telah memberikan amanah besar bagi umat manusia.
Jika dulu kesalahan apapun yang dia lakukan sama sekali tidak dicatat dan tidak diperhitungkan. Begitu masuk usia baligh, semua harus dipertanggung jawabkan. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَبْلُغَ
Pena catatan amal diangkat dari 3 orang, [1] diangkat dari anak kecil hingga dia baligh. (HR. Ahmad 952, Nasai 3432, Turmudzi 1488, dan yang lainnya).
Akan tetapi beda baligh dengan dewasa. Betapa banyak remaja yang baligh, namun jauh dari karakter dewasa. Sifat kekanakan, manja, tidak merasa bersalah masih sangat menonjol dalam dirinya. Sayangnya, terkadang orang tua membiarkan anaknya bebas tanpa batas, tanpa nasehat, tanpa arahan, kurang perhatian menyadaran anaknya tentang betapa gentingnya usia  baligh.
Satu kisah yang layak dijadikan contoh. Nasehat seorang ayah kepada anaknya, calon ulama dunia, Sufyan bin Uyainah. Sufyan menceritakan,
قال لي أبي – وقد بلغت خمس عشرة سنة – إنه قد انقضت عنك شرائع الصبا، فاتبع الخير تكن من أهله، فجعلت وصية أبي قبلة أميل إليها ولا أميل عنها
Ayahuku memberi nasehat kepadaku – ketika aku berusia 15 tahun –, ‘Usia anak-anak telah berakhir darimu, karena itu, ikutilah kebenaran niscaya kamu akan menjadi pemilik kebenaran.’ Akupun selalu mengingat wasiat ayahku. Selalu aku perhatikan dan tidak kulupakan. (Shaid al-Khatir, hlm. 55)
Bisa jadi pesan yang dianggap sederhana oleh sang ayah, namun menjadi istimewa bagi sang anak.
Allahu a’lam